Gunung Anak Krakatau Kembali Mengamuk, Erupsi Menerus Disertai Lava Fountain
(Penulis): Muhammad Fajar Mutaqin Wahyudi
Serang, notifbanten.com – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas tinggi. Pada Jumat, 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, gunung api tersebut mengalami erupsi menerus disertai suara gemuruh yang masih berlangsung hingga Sabtu, 5 September 2026 pukul 04.40 WIB.
Fenomena ini terpantau dari Pos Pengamatan Gunung api Anak Krakatau Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
“Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Sampai saat ini masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran,” demikian tertulis dalam Laporan Khusus Nomor:1512.Lap/GL.03/BGL/2026 yang dikeluarkan Badan Geologi.
Berdasarkan laporan Badan Geologi, tinggi kolom erupsi tidak teramati. Namun cahaya merah menyala dari semburan erupsi terlihat jelas secara menerus.
“Fenomena erupsi ini menyerupai ‘lava fountain’ atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi,” jelas laporan tersebut.
Getaran dan dentuman dari erupsi juga dilaporkan dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Provinsi Banten, dan Provinsi Lampung.
Sejak erupsi pertama pada 2 Juli 2026, status Gunung Anak Krakatau berada di Level III Siaga. Seri erupsi tipe Strombolian yang memuntahkan batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga 5 September 2026.
Badan Geologi menyatakan potensi ancaman saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar. Namun masyarakat diminta tidak panik.
“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” tulis laporan itu.
Badan Geologi mengeluarkan 4 poin rekomendasi yakni yang pertama masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang memasuki radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Kedua, meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
Ketiga, masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung harap tenang dan beraktivitas seperti biasa, namun tetap mengikuti arahan BPBD setempat.
Keempat, pantau informasi resmi melalui PVMBG, aplikasi Magma Indonesia, dan media sosial Badan Geologi.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api tipe A di Selat Sunda, wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Gunung ini memiliki catatan erupsi besar 1883 yang memicu tsunami.
Terakhir kali longsor sebagian tubuhnya terjadi pada 22 Desember 2018 yang juga memicu tsunami di Selat Sunda.
Setelah itu erupsi skala rendah terus berlangsung sebagai fase pertumbuhan kembali hingga 16 Desember 2023, sebelum kembali aktif pada 2 Juli 2026 (Red).
Editor: Irwan Wahyudi

