News

Menyapa Ibu Upi, Sosok Tangguh di Pelabuhan Merak yang Menolak Menyerah pada Nasib

Spread the love

Cilegon, notifbanten.com – Sinar mentari belum sepenuhnya hilang di kawasan Merak, Kota Cilegon, Provinsi Banten pada Senin (16/3/2026).

Namun sebuah lapak sederhana muncul di sudut area parkir dermaga Pelabuhan Eksekutif Merak. Di sanalah Linda Indrawati, yang akrab disapa Ibu Upi, menyambut para pelanggan dengan senyum ramah.

Perempuan asal Merak Cilegon itu telah bertahun-tahun menghidupi keluarganya dari lapak kecil yang menjual kopi sachet dan pop mie rebus.

Bagi sebagian orang, lapak itu mungkin terlihat biasa saja. Namun bagi Ibu Upi, tempat sederhana tersebut adalah sumber harapan untuk menyambung hidup.

Sejak tahun 2008, Ibu Upi setia berjualan di tempat itu. Dengan peralatan sederhana dan gerobak kecil, ia melayani siapa saja yang ingin menyeruput kopi hangat atau sekadar mengganjal perut dengan mie instan.

Harga yang ia tawarkan pun sangat terjangkau. Secangkir kopi sachet dijual Rp5.000. Sementara satu porsi pop mie rebus Rp13.000. Bahkan jika pelanggan hanya ingin air panas, ia cukup membayar Rp4.000.

“Yang penting orang bisa ngopi atau makan hangat,” ujar Ibu Upi kepada notifbanten.com.

Bagi Ibu Upi, setiap gelas kopi yang ia seduh bukan sekadar minuman. Di baliknya ada cerita panjang tentang perjuangan seorang ibu.

Ia adalah ibu dari enam anak. Kini, keluarganya juga telah bertambah dengan enam orang cucu. Anak bungsunya masih duduk di bangku SMP.

Kehidupan Ibu Upi tak selalu mudah. Pada tahun 2014, suami tercintanya meninggal dunia.

Sejak saat itu, ia harus berjuang sendiri menghidupi keluarga.

Namun perempuan tangguh ini tak menyerah pada keadaan. Ia tetap membuka lapaknya setiap hari, berharap ada pelanggan yang datang.

Penghasilannya pun tak menentu. Jika sedang ramai, ia bisa membawa pulang sekitar Rp450 ribu dalam sehari.

Namun ketika sepi, pendapatannya hanya berkisar Rp200 ribu. Bahkan terkadang hanya Rp150 ribu.

Meski begitu, Ibu Upi tetap bersyukur. Menurutnya, hasil jualan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

“Lumayan buat beli beras,” katanya sambil tersenyum.

Kesederhanaan hidup tak membuat semangatnya luntur. Ia tetap bangun pagi, menyiapkan air panas, menyusun kopi sachet, dan menunggu pelanggan yang datang.

Keranjang dagangannya mungkin kecil, tetapi semangat yang tersimpan di dalamnya begitu besar.

Bagi Ibu Upi, setiap hari adalah perjuangan. Namun selama masih ada kopi yang bisa diseduh dan mie yang bisa dimasak, ia akan terus bertahan.

Sebab di balik setiap cangkir kopi yang ia jual, ada harapan untuk masa depan anak dan cucunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *