News

Pusat Kota Maju, Pinggiran Terabaikan : Potret Ketimpangan Infrastruktur di Kota Serang

Spread the love

Serang, notifbanten.com- Pembangunan infrastruktur di Kota Serang saat ini, menunjukan ketimpangan yang nyata antara wilayah pusat kota dengan Kawasan wilayah pinggiran.

Ketika Pusat kota mendapatkan pembangunan jalan, fasilitas publik dan layanan umum yang relative sangat baik, sebaliknya wilayah pinggiran kota justru memiliki kondisi infrastruktur yang minin, rusak, tertinggal dan tidak layak kerap luput dari perhatian pemerintah daerah Kota Serang, (15/12/2025).

“Ketimpangan ini bukan hanya tampak secara visual, tetapi didukung dengan penemuan akademik yang menunjukan adanya ketimpangan pembangunan yang terjadi di pusat kota serang dan wilayah desa di sekitar kota serang, Ucapnya Cindi Aulia.

Ketimpangan Infrastuktur di Serang dapat dilihat dari perbandingan kondisi fisik wilayah pusat kota dan wilayah pinggiran kota Serang.

Infrastruktur jalan dipusat kota sangat amat baik dan memadai akses yang mudah menuju fasilitas pelayanan publik dan ekonomi, sementara di wilayah pinggiran seperti Desa Cikedung di Kabupaten Serang memiliki akses jalan yang masih rusak dan tidak layak, fasilitas publik terbatas, dan konektivitas antarwilayah sangat terbatas, dan sulit di akses, Ujarnya.

“Studi kasus menunjukkan bahwa kondisi jalan yang rusak dan kurangnya fasilitas publik menjadi hambatan utama bagi pembangunan di wilayah pinggiran meskipun memiliki potensi sumber daya yang besar.

Ketidakmerataan ini bukan hanya soal kualitas jalan, tetapi berdampak langsung pada perilaku ruang dan mobilitas masyarakat: warga di penggiran menghadapi kesulitan perilaku ruang mengkases pusat pelayanan Kesehatan, Pendidikan, dan pasar karena infrastruktur yang tidak memadai, semestara pusat kota mendapatkan prioritas pembangunan yang lebih tinggi.

Beberapa factor structural menyebabkan ketimpangan infrastruktur antar pusat kota Serang dan wilayah pinggiran, mulai dari perencanaan infrastruktur sering kali lebih focus pada pusat ekonomi dan administratif kota, sehingga anggaran dan fasilitas yang dialokasikan lebih besar untuk Kawasan inti kota disbanding pinggiran.

“Karena itu, wilayah – wilayah pinggiran seperti desa – desa di sekitar Serang kurang mendapatkan perhatian dan prioritas oleh pemerintah daerah.

Terutama Urbanisasi yang cepat di kota serang memperbesar kebutuhan akan jalan, drainase, dan fasilitas publik lainnya. Namun Pertumbuhan pemukiman bara di pinggiran tidak diikuti dengan dukungan infrastruktur yang seimbang, sehingga wilayah pinggiran terkesan berkembang secara fisik tanpa dukungan pembangunan yang memadai, Pungkasnya.

Hal inilah membentuk ketimpangan infrastruktur yang menyebabkan warga pinggiran Kota Serang menanggung beban ketidakadilan pembangunan, mulai dari hambatan mobilitas dan Ekonomi jalan yang rusak dan kurangnya konektivitas menghambat ekonomi harian seperti distribusi barang dan biaya transportasi yang lebih tinggi.

Lalu ketidakmampuan wilayah pinggiran mengakses infrastruktur dengan baik memperpanjang siklus keterbelakangan sosial dan ekonomi. Wilayah yang bahkan memiliki potensi sumber daya tetap tidak dapat mengoptimalkan tanpa dukungan infrastruktur yang memadai.

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut pemerintah daerah kota Serang perlu meredefinisi prioritas anggaran pembangunan infrastruktur.

“Dengan Meningkatkan alokasi anggaran infrastruktur untuk wilayah pinggiran secara proporsional berdasarkan kebutuhan dan kepadatan penduduk, pemerintah seharusnya bukan hanya mengejar proyek besar di Pusat Kota, tapi juga membangun jaringan infrastruktur local yang mendukung integrasi wilayah pinggiran dan pusat kota Serang.

Dengan demikian, pemerataan pembangunan infrastuktur bukan sekedar jargon pembangunan, tetapi tercermin dalam keberlanjutan pola kehidupan masyarakat di semua wilayah Kota Serang, bukan hanya Kawasan pusat. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *