Gunung Anak Krakatau Erupsi, 779 Siswa SDN Banjarsari 5 Beralih ke PJJ
(Penulis): Muhammad Fajar Mutaqin Wahyudi
Serang, notifbanten.com – Abu vulkanik akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau membuat kegiatan belajar mengajar di SDN Banjarsari 5 Kota Serang dialihkan ke rumah, Senin, 7 September 2026. Sebanyak 779 siswa mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ), namun kegiatan sekolah tetap dilaksanakan secara daring, termasuk upacara bendera.
Kepala SDN Banjarsari 5, Anton Setiadi, mengatakan PJJ dilaksanakan sesuai surat edaran Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang. Meski siswa tidak datang ke sekolah, sekolah tetap menjalankan pembiasaan, termasuk upacara bendera yang tetap dilaksanakan secara daring dan diikuti siswa dari rumah.
“Bukan hanya pembelajaran mata pelajaran saja, pembiasaan-pembiasaan pun kita lakukan sebagaimana mestinya. Seperti upacara kita lakukan secara daring, anak-anak mengikuti upacara di rumah,” ujar Anton, Senin, 7 September 2026.
Setelah upacara, guru melanjutkan pembelajaran dengan berinteraksi bersama siswa melalui Google Meet, Zoom dan kanal pembelajaran lainnya. Materi diberikan sesuai jadwal pelajaran masing-masing kelas.
Anton mengatakan pada pelaksanaan PJJ hari ini hanya guru yang hadir di sekolah. Empat siswa yang tergabung sebagai Sahabat Sekolah Dasar juga hadir untuk memberikan semangat kepada teman-temannya agar tetap mengikuti pembelajaran dari rumah.
Anton mengatakan SDN Banjarsari 5 memiliki 779 siswa pada tahun pelajaran 2026/2027, dengan 23 rombongan belajar dan 23 guru wali kelas.
Ia menjelaskan PJJ untuk Kota Serang sesuai surat edaran baru dilaksanakan pada Senin ini. Sekolah masih menunggu informasi lanjutan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang terkait pelaksanaan pembelajaran pada hari berikutnya.
“Untuk PJJ ini sesuai dengan surat dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dilaksanakan hanya hari ini. Kita menunggu informasi lanjutan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang,” katanya.
Anton berharap PJJ tidak berlangsung lama dan kondisi akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau segera membaik sehingga siswa dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka.
“Harapan saya PJJ ini tidak terlaksana berkelanjutan, hanya beberapa hari ini saja dilakukan PJJ,” ujarnya.
Ia juga meminta siswa tetap berada di rumah dan menggunakan masker apabila terpaksa keluar rumah untuk menjaga kesehatan di tengah kondisi udara akibat abu vulkanik.
“Pesan untuk anak-anak tetap di rumah, tetap menggunakan masker jikapun itu terpaksa harus keluar rumah, jangan lupa menggunakan masker dan tetap jaga kesehatan,” ujar Anton.
Guru Kelas 6C SDN Banjarsari 5, Euis Oktavia Putri, mengatakan kelasnya memiliki 28 siswa. Pada hari pertama PJJ, siswa mendapatkan materi IPAS dan Bahasa Inggris melalui Google Meet.
“Ini kita tadi bagi link via Google Meet. Jadi anak-anak sudah diberikan link-nya, tinggal menunggu anak-anak gabung,” kata Euis.
Pelaksanaan pembelajaran daring juga membuat waktu belajar dipadatkan. Jika dalam kondisi normal siswa pulang pukul 12.30 WIB, saat PJJ kegiatan belajar selesai lebih cepat. Waktu istirahat dan salat Zuhur berjamaah di sekolah juga tidak dilakukan.
Euis mengatakan penerapan PJJ masih memiliki kendala bagi sebagian orang tua yang bekerja. Tidak semua orang tua dapat berada di rumah untuk mendampingi anak selama pembelajaran berlangsung.
Selain itu, masih terdapat siswa yang belum memiliki gawai sendiri. Kondisi tersebut membuat sebagian orang tua harus menyesuaikan aktivitas pekerjaan agar anak tetap dapat mengikuti pembelajaran daring.
“Beberapa orang tua mengeluhkan khawatir. Biasanya kalau ke sekolah seharian tidak pegang HP, sekarang beberapa jam harus pegang HP. Ada juga yang memang tidak dibekali gadget sama sekali, jadi orang tuanya harus bolak-balik ke tempat kerja,” ujar Euis (Red).
Editor: Irwan Wahyudi

