GAPASDAP Sesalkan Kekosongan di Pelabuhan Merak di Tengah Antrean Panjang Ciwandan
Cilegon, notifbanten.com, – Memasuki puncak arus mudik Lebaran 2026 pada H-3, kondisi di Pelabuhan Utama Merak-Bakauheni justru terpantau sepi dari aktivitas pemuatan. Hal ini menuai protes keras dari Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP) yang menilai adanya ketimpangan operasional antara pelabuhan utama dan pelabuhan penunjang.
Ketua Umum GAPASDAP, Khoiti Soetomo selasa sore (17/3/26), mengungkapkan bahwa meskipun Pelabuhan Merak memiliki fasilitas mumpuni berupa tujuh pasang dermaga moving bridge dan 71 armada kapal Roro Ferry, pelabuhan tersebut justru terlihat dikosongkan. Di sisi lain, pelabuhan penunjang seperti Ciwandan dan BBJ dilaporkan mengalami antrean panjang.
Pihak GAPASDAP menyoroti implementasi Surat Keputusan Bersama (SKB) yang dianggap menjadi pemicu ketidakefektifan ini. Walaupun menghormati SKB sebagai upaya mengurai macet, pengusaha kapal meminta pemerintah lebih fleksibel dalam pelaksanaannya.
”Kami sangat berharap pemberlakuan SKB itu bisa dilakukan secara dinamis, dalam pengertian bisa dilakukan secara fleksibel. Jadi kalau Merak kosong seperti sekarang, harusnya sebagian (muatan) dialihkan ke sini,” tegas Khoiri.
Kondisi ini tidak hanya memukul sisi ekonomi pengusaha kapal yang harus menanggung beban investasi dan bunga bank, tetapi juga berdampak pada kenyamanan pemudik.
Seperti pengemudi Logistik, harus tertahan dalam antrean panjang di pelabuhan penunjang padahal kapasitas di Merak masih tersedia luas.
Pemudik Roda Dua, diarahkan ke Ciwandan yang memiliki fasilitas yang dianggap tidak sebanding dengan Pelabuhan Merak yang sudah beroperasi 51 tahun.
Perekonomian Nasional, Hambatan pada kendaraan logistik dikhawatirkan mengganggu distribusi barang antar pulau.
Desakan kepada Pemerintah
GAPASDAP telah melayangkan surat kedua kepada Menteri Perhubungan untuk mendesak adanya koordinasi situasional antara KSOP, BPTD, dan Korlantas Polri. Mereka berharap pada sisa masa mudik hingga arus balik nanti, distribusi muatan dapat dibagi secara lebih adaptif guna memanusiakan para pengguna jasa penyeberangan.(red)

