Sekolah Nyaris Roboh, SDN Palamakan 1 Serang Butuh Perhatian Pemerintah
Serang, notifbanten.com – Di tengah perkampungan Desa Pringwulung, Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang, berdiri bangunan SDN Palamakan 1 yang kondisinya memprihatinkan.
Sekolah ini tak hanya menua bersama waktu, tapi juga rapuh dengan atap bocor, dinding retak, dan lantai becek. Kondisi ini membuat kegiatan belajar-mengajar terganggu dan membahayakan keselamatan siswa.
Guru SDN Palamakan 1, Aswani, mengatakan sekolah ini hanya memiliki tiga ruang kelas yang aktif dari seharusnya enam ruang. Satu ruang digunakan guru, sedangkan tiga lainnya untuk siswa. Akibatnya, kegiatan belajar harus dibagi menjadi dua sesi.
“Kelas 1 sampai 3 belajar pagi, kelas 4 sampai 6 belajar siang. Ruang tidak cukup untuk semua murid,” kata Aswani, Kamis, 11 September 2025.
Ia menjelaskan kerusakan semakin parah saat musim hujan. Atap bocor dan dinding rapuh membuat proses belajar menjadi kacau. “Kalau hujan, air masuk ke kelas. Belajar jadi kacau. Kami khawatir anak-anak celaka,” ujarnya.
Aswani menyebut bangunan utama terakhir kali dibangun pada 2011. Sejak saat itu, belum ada perbaikan menyeluruh. “Sudah bertahun-tahun kami menunggu. Hanya difoto, diukur, dijanjikan dibangun. Hasilnya nol,” tegasnya.
Selain ruang kelas yang terbatas, fasilitas sekolah juga minim. Hal ini membuat guru dan siswa harus beradaptasi dengan kondisi seadanya. “Dampaknya pasti ke kualitas pendidikan anak-anak,” kata Aswani.
Guru dan warga sekitar menilai penambahan ruang kelas baru sangat mendesak. Tanpa perbaikan, kegiatan belajar akan terus terganggu dan sulit menciptakan suasana belajar yang nyaman.
Kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan guru dan orang tua murid. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki sekolah. “Harapan kami sederhana, sekolah ini dibangun kembali agar layak digunakan. Anak-anak berhak belajar di ruang yang aman dan nyaman,” ujar Aswani.
Ia juga menekankan pentingnya kesetaraan fasilitas pendidikan. Menurutnya, banyak sekolah di sekitar Palamakan sudah memiliki ruang kelas yang lengkap dan layak. “Anak-anak kami juga punya hak belajar yang setara dengan sekolah lain,” tuturnya.
Pihak sekolah mengaku sudah berulang kali melaporkan kondisi ini ke Dinas Pendidikan Kabupaten Serang. Namun, jawaban yang diterima selalu sama, masih menunggu proses perencanaan dan anggaran.
“Kami lelah menunggu. Setiap kali ada survei, dijanjikan akan dibangun, tapi tidak ada realisasi. Padahal keselamatan anak-anak dipertaruhkan,” ungkap Aswani.
Guru, orang tua, dan warga kini mendesak pemerintah daerah segera melakukan perbaikan. Mereka menegaskan, jika dibiarkan lebih lama, bukan hanya mutu pendidikan yang terancam, tetapi juga keselamatan siswa.
“Pendidikan adalah hak dasar. Jangan sampai anak-anak belajar di gedung yang hampir roboh,” kata salah satu warga.
Keterbatasan ruang kelas dan fasilitas membuat anak-anak sulit berkembang maksimal. “Kalau dibiarkan, kualitas pendidikan di sekolah ini akan terus menurun. Anak-anak akan kalah bersaing dengan murid lain yang belajar di sekolah lebih layak,” pungkasnya. (Red)

