News

Pemprov Banten Targetkan Temuan Kasus TBC Capai 14.000, Masyarakat Dihimbau Melapor

Spread the love

SERANG,– Pemprov Banten menargetkan temuan kasus Tuberkulosis (TBC) di tahun 2024 ini sebanyak 14.000. Target yang tinggi itu sebagai upaya Pemprov Banten untuk mewujudkan generasi emas Indonesia tahun 2045.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinskes) Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti mengatakan sampai bulan April 2024 ini, capaian temuan kasus TBC di Provinsi Banten sudah mencapai 39 persen atau sekitar 5.000 kasus. Jumlah itu menyebabkan Banten berada pada urutan pertama dalam penangan hasus TBC secara nasional.

“Sampai pada akhir tahun nanti kita targetkan minimal bisa mencapai 90 persen. Angka itu cukup tinggi dan kita yakin bisa tercapai,” ucapnya, (14/6/2024).

Kembali diintensifkannya pencarian kasus TBC itu dilakukan Pemprov Banten sebelum adanya lonjakan kasus yang menjadi perhatian pemerintah pusat. Jauh sebelum itu, Pj Gubernur Banten Al Muktabar sudah mengeluarkan Surat Keputusan dan Peraturan Gubernur (Pergub) Banten berkaitan dengan penanganan kasus TBC.

“Makanya kita selalu menjadi yang tertinggi. Selain itu kita juga sudah membuat tim percepatan penanganan TBC yang menggerakkan seluruh stackholder dari OPD, kader posyandu, tenaga pendamping, sampai NGO,” katanya.

Setelah ditemukan, lanjutnya, para penderita TBC juga akan secara intensif ditangani melalui pengobatan yang dilakukan secara berkala tergantung pada kasus yang ditemukan. Jika masuk kategori satu, kita akan obati selama enam bulan tidak terputus. Kemudian untuk kategori dua, diobati selama delapan bulan, kategori tiga 12 bulan dan untuk yang sudah resisten bisa lebih dari satu tahun.

Selain diberikan pengobatan kepada penderita TBC, Pemprov juga memberikan edukasi kepada anggota keluarga yang bersangkutan agar tidak terlalu aktif berinteraksi dengan penderita TBC serta menjaga imunitas dengan baik.

“TBC itu angka kematiannya tinggi, dan daya tularnya juga cukup tinggi. Makanya Ketika ditemukan kasus langsung diperiksa dan diobati. Dalam waktu dua bulan pertama tidak akan menular, belum sembuh makanya harus sampai 6 bulan,” jelasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *