Aksi Demonstrasi Mahasiswa di Serang Ricuh, Polisi Bubarkan Massa
Serang, notifbanten.com – Aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung ricuh di Kota Serang akhirnya berhasil dibubarkan oleh aparat kepolisian dari Polres Serang Kota dan Polda Banten. Sekitar pukul 21.00 WIB, massa aksi yang telah bertahan sejak sore hari dipukul mundur dari lokasi.
Sebelumnya, massa sempat berjam-jam bersitegang dengan polisi, di mana kedua pihak saling serang. Kericuhan memuncak saat demonstran membakar Pos Polisi Ciceri, membakar foto Kapolri, serta membakar ban di Bundaran Ciceri. Akibat aksi ini, sejumlah ruas jalan utama, seperti Jalan Jenderal Ahmad Yani, Jalan Jenderal Soedirman, dan Jalan Trip Jamaksari, lumpuh total.
Koordinator Aksi, Abroh Nurul Fikri, menyatakan bahwa aksi ini adalah bentuk protes terhadap ketidakadilan sosial dan korupsi yang marak di kalangan pejabat.
“Aksi ini kami lakukan sebagai bentuk protes terhadap kesenjangan yang terjadi serta perilaku pejabat yang menunjukkan bahwa negara kita sarat korupsi dan gagal menyejahterakan masyarakat,” ujarnya.
Abroh menambahkan, aksi demonstrasi yang berlangsung sejak 25 hingga 28 Agustus lalu telah mendapatkan perlakuan represif dari aparat. Ia juga menyinggung insiden tewasnya seorang pengemudi ojek online yang terlindas kendaraan taktis saat aksi di Jakarta.
“Itu jelas menunjukkan ketidakmanusiawian dan watak rezim hari ini, yang seolah sengaja membunuh rakyat melalui penanganan gerakan masyarakat,” tegasnya.
Menurut Abroh, insiden tersebut menjadi bukti nyata bahwa negara semakin jauh dari nilai demokrasi dan keadilan. Ia menilai, kesejahteraan rakyat belum terjamin, sementara elit politik justru sibuk mengambil keuntungan.
Dalam aksinya, massa menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya:
* Menghentikan represivitas terhadap gerakan rakyat.
* Menegakkan hak asasi manusia.
* Memperbaiki sistem pemerintahan yang dinilai tidak berjalan baik.
* Menolak rencana kenaikan gaji DPR.
“Nyawa sudah hilang, maka negara wajib bertanggung jawab penuh. Negara tidak boleh berbisnis dengan rakyatnya, apalagi sampai membunuh rakyatnya,” katanya.
Abroh menegaskan bahwa aksi ini tidak bertujuan untuk menemui pejabat tertentu karena mereka menilai tidak ada pejabat yang bisa menjawab keresahan rakyat.
“Aksi ini adalah bentuk perlawanan rakyat Banten yang masih ada, akan terus ada, dan akan terus melawan,” tutupnya. (Red)

